Tolak Larangan PN Makale, YPTKM Tetap Lantik Rektor UKI Toraja Besok

Stepanus Patanda
Minggu, 02 Februari 2020 | 18:43 Wita | 2592 View


Weekendsulsel.com, Toraja–Meskipun Ketua Majelis Hakim Sidang Sengketa Hasil Pemilihan Rektor UKI Toraja, telah meminta penundaan pelantikan, pihak Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Makale (YPTKM) tetap ngotot ingin melantik Rektor UKI Toraja yang baru periode 2020-2025.

Acara pelantikan dijadwalkan berlangsung besok, Senin, 3 Pebruari 2020. Jadwal semula, seperti dilansir sebelumnya, 5 Pebruari 2020. Ada percepatan jadwal pelantikan yang terkesan terburu-buru.
Betapa tidak, Pejabat Lama, Rektor UKI Toraja yang sekarang, Prof. Daud Malamassam juga baru berakhir masa jabatannya 5 Pebruari mendatang. Undangan Pelantikan Rektor ini sudah beredar dan telah sampai ke tangan para undangan. Mereka yang diundang seperti Para Dosen dan Senat UKI Toraja serta lainnya. Undangan tertanggal 1 Pebruari 2020 tersebut ditandatangani Ketua YPTKM Enos Karoma, SE, MH, dan Sekretaris YPTKM Marten Kala’ Lembang, S.Th, M.Pd.
Seperti diketahui, Rektor terpilih DR. Octavianus Pasoloran ditetapkan sebagai Rektor UKI Toraja oleh pihak YPTKM setelah melalui proses pemilihan yang kontroversial hingga memunculkan polemik yang bermuara pada proses hukum.
Akibatnya, seorang dari kandidat, Prof. DR. Marthen Arie, SH, MH, melalui Kuasa Hukumnya, mengajukan gugatan sengketa Hasil Pilrek ke Pengadilan Negeri Makale. Pihak Tergugat, masing-masing, YPTKM (I), Octavianus Pasoloran (II), Senat UKI Toraja (III), dan Panitia Penjaringan dan Seleksi Pilrek UKI Toraja (IV). Ke-4 Tergugat Diduga Melakukan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) pada Pelaksanaan Pilrek UKI Toraja Periode 2020-2025.

Salah satu undangan pelantikan rektor UKI Toraja

Selain itu, Prof. Marthen Arie juga melaporkan kasus Pilrek tersebut ke Ombudsman RI (ORI) Perwakilan Sulsel perihal Dugaan Maladministrasi pada Pilrek UKI Toraja yang lalu.
Konon, keterlibatan Ombudsman sendiri dalam penanganan laporan tersebut dipandang remeh sebagian oknum pengurus YPTKM serta oknum lainnya yang dinilai arogan saat digelar rapat yang digagas Dewan Pembina YPTKM di Gedung Balla’ Tamalanrea, Makassar, 29 Januari 2020 lalu.
Respon arogan sebagian peserta rapat ini muncul setelah mereka mendengar surat Ombudsman dibacakan Ketua Dewan Pembina YPTKM, Prof. DR. dr. Daniel Sampepajung, Sp.B (K) Onk.
Pihak Dewan Pembina YPTKM, dalam kasus pilrek ini, bahkan dilaporkan kontra terhadap pengurus YPTKM.

Sidang Sengketa Hasil Pilrek UKI Toraja sendiri yang dimulai 30 Januari lalu, sampai sekarang masih berjalan. Langkah pihak YPTKM memaksa melantik rektor baru tersebut, menurut Thonny Panggua, SH, merupakan sebuah bentuk pembangkangan terhadap hukum. “Apalagi kan pejabat lama yakni rektor yang sekarang, Prof. Daud Malamassam, belum habis perodenya. Tanggal 5 bulan ini sesuai Sk Yayasan baru berakhir. Jadi secara hukum Prof. Daud masih rektor sampai dengan 5 Pebruari,” ujar Thonny yang juga Aktivis Toraja Transparansi ini, via ponsel, Minggu siang (2/2).

Majelis Hakim juga, kata Thonny, sudah mengarahkan untuk tidak melakukan pelantikan 5 Pebruari. “Ini malah dimajukan ke tanggal 3. Ini jelas perbuatan melawan hukum dan ini bukan saja pembangkangan. Tapi tidak ada etika dan moral,” tandasnya lantang.
Hal senada dilontarkan Jonathan WS, SH, Pemuka Masyarakat yang juga Pengusaha Toraja. Mantan Ketua Golkar Toraja yang akrab disapa JWS ini, menaruh prihatin atas arogansi dan politisasi dalam Pilrek UKI Toraja lalu dengan membawa simbol-simbol dan identitas institusi organisasi gerejawi.
“Bagaimana mau membuat dan melaksanakan aturan-aturan sorgawi kalau untuk aturan-aturan dunia saja sebegitu arogansinya. Lha..di UKI Toraja kan ada Fakultas Teologi harusnya membawa kesejukan tapi nyatanya terbalik. Baru tidak ada kesadaran hukum. Coba kalau pilreknya yang lalu transparan, jujur dan objektif tidak sampai ribut. Semua berjalan sesuai norma yang ada dan aman. Ini sudah ada pendeta, dosen teologia, pemuka dan petinggi rohani, aduh bikin malu,” beber JWS lagi.
Menurut dia, kejadian yang menimpa UKI Toraja dalam memilih pemimpinnya ini merupakan sejarah baru selama perguruan tinggi milik Masyarakat dan Gereja Toraja ini berdiri. (red)



BACA JUGA

Tags: